Sehubungan
dengan hubungan teraupetik sebagaimana dijelaskan di atas, Capuzzi Gros
(2011:3) menjelaskan bahwa hubungan yang membantu tampaknya menjadi landasan
yang efektif (Bertolino & O'Hanlon, 2002; Halverson & Miars, 2005;
Miars & Halverson, 2001; Seligman,2001; Skovholt, 2005; Sommers-Flanagan,
2007). Kata-kata seperti integral, perlu dan wajib digunakan untuk
menggambarkan hubungan dan pentingnya dalam efektivitas proses membantu.
Meskipun secara teoritis yang berbeda dan menggunakan pendekatan yang berbeda
untuk menggambarkan hubungan, masing-masing membahas signifikansi hubungan
membantu dalam memfasilitasi perubahan klien. Kottler dan Brown (1992), dalam
buku mereka Pengantar Terapi Konseling, membuat komentar mengenai pentingnya
hubungan berikut ini:Terlepas dari pengaturan di mana Anda berlatih konseling,
apakah di sekolah, lembaga, rumah sakit, atau praktek swasta, hubungan Anda
mengembangkan konseli sangat penting untuk setiap kemajuan. Karena tanpa
tingkat keintiman yang tinggi dan kepercayaan antara konselor dan konseli,
sangat sedikit yang bisa dicapai.
McLeod
(2013) memberi kesimpulan bahwa dalam proses konseling pentingnya hubungan
antara konseli dan konselor dalam semua pendekatan terapi. Jelas bahwa konselor
yang didik untuk menggunakan model teoritis yang berbeda juga menggunakan cara
yang berbeda untuk memahami hubungan teraupetik. Dan, juga tampak jelas bahwa
ada “kebenaran” mendasar berkaitan dengan hubungan konselor dan konseli, dan
relevan dengan semua pendekatan konseling, di dalam ide Rogers (1957) dan
Bordin (1979), serta konsep transference dan counter-trensference Freud.
Terdapat pula kecenderungan bahwa sebagian Konseli akan merespon lebih baik
terhadap beberapa tipe hubungan tertentu, tergantung pada sejarah dan kebutuhan
personal mereka. Hubungan teraupetik sangat berarti dalam konseling – kualitas
hubungan tersebut menunjukkan kontribusi signifikan terhadap hasil akhir
konseling, dan kemampuan untuk membuat konseli tetap mengikuti konseling.
Karena itu, konselor harus menyadari seberapa besar kekuatannya dalam membuat
dan mempertahankan cara bermanfaat dalam berhubungan dengan klien, dan juga
untuk tetap terus berusaha untuk lebih responsif terhadap begitu banyaknya
variasi pola hubungan yang mungkin ditunjukkan oleh klien. Hubungan teraupetik
adalah hal yang kompleks dan beroperasi pada sejumlah level yang berbeda di
satu waktu. Sangat sulit untuk menggeneralisir dengan baik pandangan seseorang
untuk membangun pemahaman yang akurat tentang bagaimana perilaku seseorang
dalam hubungan. Bagi konselor mana pun, membangun pemahaman tentang bagaimana
dia “masuk” dalam hubungan dengan konseli sangat ditentukan oleh kesempatan
yang dimilikinya, seperti kelompok pendidikan, atau supervisi, yang akan
diberikan umpan balik dan menantang caranya berhubungan dengan orang lain.
Geldard,
K. & Geldard, D. (2011) menjelaskan bahwa hubungan antara konseli dan
konselor sangat tergantung pada kepribadian, keyakinan-keyakinan, perilaku
konselor. Artinya bahwa hubungan yang diciptakan konselor tentu tidak terlepas
dari karakteristik yang dimiliki oleh konselor itu sendiri. Selanjutnya
Geldard, K. & Geldard, D. dengan mengutip dari Rogers menegaskan bahwa
hubungan klien-konselor sebagai hubungan orang dengan orang di mana orang yang
mencari bantuan dihargai. Salah satu bentuk penghargaan terhadap konseli adalah
konselor harus menyadari bahwa konseli memiiki kompetensi. Artinya bahwa dalam
diri konseli terdapat kemampuan untuk menemukan solusi dari masalah yang mereka
hadapi. Hangat, mendukung, penuh perhatian, berempati, pengertian, klarifikasi,
membantu, bertujuan, menunjukkan keterlibatan, kolaboratif, peka, dan
menciptakan keselarasan hubungan dalah kualitas-kualitas dan
karakteristik-karakteristik konselor yang dibutuhkan dalam membangun hubungan
dengan konseli (Geldard, K. & Geldard, D. 2011)
2.
Pemindahan dapat bersifat positif yaitu
bila klien memproyeksikan perasaannya afeksinya (misalnya: cinta, hormat,
menghargai) atau ketergantungannya kepada konselor. Bersifat negatif yaitu bila
klien memproyeksikan perasaan kebencian dan agresinya kepada konselor. Fungsi
terapeutik pemindahan dalam konseling adalah (1) dapat membangun hubungan yang
baik, (2) meningkatkan kepercayaan, (3)memungkinkan klien memperoleh gambaran
perasaan melalui penafsiran perasaannya. Dalam psikoterapi perkembangan dan
proses pemindahan dipandang sebagai bagian perubahan kepribadian dalam jangka
panjang. Penyelesaian pemindahan perasaan dapat dicapai bila konselor menjaga
sikap menerima dan memahami, dan juga menerapkan bebrapa keterampilan dasar
konseling misalnya teknik refleksi perasaan, refleksi isi, bertanya,
klarifikasi dan interpretasi. 2. Pemindahan balik (countertransference) Secara
umum pemindahan balik mengacu pada suatu kejadian dalam konseling dimana konselor
memproyeksikan, menanggapi setara, perasaan-perasaan atau sikap klien
berdasarkan pada pengalaman masa lalu atau hubungan konselor dengan orang lain
(Mappiare, 2006:71). Definisi yang lain dikemukakan oleh Brammer dan Shostrom
(1982) bahwa pemindahan balik merupakan reaksi emosional dan proyeksi konselor
terhadap klien, baik yang disadari maupun tidak disadari. Pemindahan balik ini
dapat timbul karena bersumber dari kecemasan. Pola kecemasan konselor dapat
diklasifikasikan menjadi tiga jenis yaitu (1) masalah pribadi yang tak
terpecahkan, (2) tekanan situasional, dan (3) komunikasi perasaan klien pada
konselor . Konselor dapat mengatasi perasaan pemindahan balik ini dengan cara
(1) membatasi sumber perasaan pemindahan balik, (2) meminta bantuan kepada ahli
lain. (3) mendiskusikan dengan klien, (4) menyadari diri sendiri (5) rujukan
kepada konseling atau terapi kelompok.